• Senin, 18 Maret 2019
  • Memuat...

Tari Piriang Minangkabau Awalnya Dipersembahkan untuk Dewi Padi

Awalnya adalah tarian yang dipersembahkan untuk Dewi Padi, dibawakan sebagai ungkapan syukur saat musim panen tiba. Klimaksnya mendebarkan, penarinya menari di atas pecahan piring. Kini dimodifikasi agar sesuai dengan nilai dan syariat agama.

Negerisatu News

Tak hanya tersohor akan ragam kulinernya yang serba menggoyang lidah saja, Sumatera Barat juga punya tarian adat yang sudah dikenal luas, yaitu tari piring atau disebut juga tari piriang dalam bahasa Minangkabau.

Dari sejarahnya, tari piring sejatinya biasa dilangsungkan setiap musim panen tiba. Ritual ini sengaja dilakukan untuk menggambarkan kegembiraan dan ucapan terima kasih atas musim panen yang baik dengan hasil panen yang melimpah ruah.

Tari ini pun biasanya diawali dengan prosesi pemberian sesaji untuk sang dewi padi. Kemudian penari akan berjalan beriringan sambil membawa dulang dan piring berisi persembahan untuk para hyang. Namun setelah Islam mulai merambah masuk ke Sumatera Barat, tradisi ini pun kemudian berubah dan disesuaikan dengan syariat agama.

Tari piring sendiri memiliki daya tarik dimana para penari akan membawa piring di kedua telapak tangannya dan bergerak meliuk-liuk. Uniknya, kedua piring yang dibawa sang penari tidak pernah jatuh dan pecah, padahal piring hanya diletakkan begitu saja di atas telapak tangannya.

Selain itu, gerakan tari yang ada dalam tari piring bercerita tentang kegiatan bercocok tanam, lho. Beberapa gerakan tari yang dibawakan penari adalah gerakan manyabik, maangin, dan mairiak.

sumber foto:topsimages.com

Manyabik yang berasal dari kata sabit artinya memotong batang padi. Kemudian, buah padi dirontokkan dari batangnya dengan gerakan mairiak. Padi pun kemudian dipisahkan antara yang berisi dan yang kosong dalam gerakan maangin.

Tari piring biasa disuguhkan dengan alunan musik khas Sumatera Barat yang dimainkan menggunakan talempong, gandang tambua, sarunai, dan pupuik batang padi.

Awalnya, musik terdengar cukup santai, namun temponya kemudian berubah semakin tinggi dan penuh semangat. Kalau sudah mencapai puncaknya, biasanya penari akan melemparkan piring-piringnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

Tak berhenti sampai di sana, penari juga akan menari di atas pecahan piring tanpa terluka sedikitpun. Hal ini tentu membuat penonton bergidik ngeri, namun disanalah letak klimaks dari tarian ini, sehingga seluruh penonton tentunya sangat menantikan momen ini.

 

sumber: pesona.travel

Negerisatu News

0 Komentar

Komentar Facebook

Post yang Berkaitan