• Senin, 18 Maret 2019
  • Memuat...

Haroa, Tradisi Masyarakat Islam Buton Bendung Radikalisme

Mempertahankan keharmonisan hidup berbangsa di bawah payung Pancasila dan ke-Indonesia-an, tidaklah mudah. Ragam konflik dan perselisihan sering membayangi gerak perjalanan negara Indonesia yang selalu berusaha mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika.

Negerisatu News

Selepas reformasi tahun 1998, ternyata masih menyisakan bahaya perpecahan akibat pemaksaan satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Pada Mei 2018, bangsa Indonesia disuguhi rangkain bom bunuh diri (teroris) yang telah menjungkirbalikkan nilai kemanusiaan.

Di balik aksi tersebut, para pelaku mengirimkan pesan tentang kehendak mendirikan suatu sistem kenegaraan yang entah apa namanya, namun jelas ingin diraih dengan menghalalkan segala cara.

Keberadaan mereka yang kemudian disebut sebagai kaum teroris, ada baiknya tidak kita sepelekan. Seseorang yang berani melakukan bunuh diri, apalagi melibatkan seluruh keluarga (hingga anak di bawah umur), dipastikan mempunyai idiologi yang tidak bisa diremehkan.

Bila kita masih menginginkan hidup berbangsa dan bernegara dengan damai berdasar toleransi atas keberagaman suku, agama, dan ras, ada baiknya segera menyusun suatu upaya menghadapi mereka. Salah satunya adalah dengan menengok kembali budaya lokal yang bisa membentengi gerak kaum radikal.

Budaya dalam hal ini adalah kearifan lokal di negeri ini yang sebenarnya sangat banyak. Budaya tersebut bisa menjadi alternatif membentengi penyebaran paham dan praktik kekerasan mereka. Salah satunya adalah tradisi haroa di Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Mengutip makalah Mahrudin dari netralnews berjudul “Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton sebagai Media Resolusi Konflik dalam Menciptakan Perdamaian Umat sekaligus Media Integrasi Antara Suku Bangsa” (2012), penulis ingin mengangkat tradisi tersebut. Seperti halnya Mahrudin, semoga tradisi ini bisa menjadi salah satu solusi dalam menghadapi konflik yang mengancam perpecahan.

Tradisi haroa di Buton, rutin diadakan pada hari-hari besar Islam. Walaupun perayaan bercorak islami, namun tradisi ternyata ini melibatkan seluruh masyarakat di Buton, baik yang beragama Islam, Hindu, Kristen, suku Jawa, Tionghoa, Bali, maupun agama dan suku lainnya. Mereka berkumpul bersama, saling membantu pelaksanaan perayaan haroa dan menjunjung arti silahturahmi.

Tradisi yang bernafas islami tersebut, tak lepas dari pengaruh penyebaran Islam dari India sekitar tahun 1542 M (948 H). Salah satu tokoh penyebaran Islam di Buton adalah Syekh Abdul Wahid. Ia berhasil mengislamkan La Kilaponto yang kemudian menjadi Sultan Buton.

Walaupun Islam diterima dan berkembang di Buton, beberapa tata nilai dan falsafah sebelum Islam masih dipertahankan. Nilai dan falsafah itu antara lain, falsafah pomae-maeka (saling menghargai), pamaa-maasiaka (saling mengasihi), popia-piara (nilai saling menjaga perasaan), poangka-angkataka (saling mengangkat derajat dan martabat antarsesama).

Kumpul Bersama Santap Hidangan Khas

Makanan yang dikumpulkan dalam ‘tala’ ini akan disuguhkan dan disantap oleh segenap masyarakat yang hadir dalam perayaan Maulid. foto: indonesiakaya

Dalam perayaan haroa, semua warga berkumpul di suatu ruangan lengkap dengan sejumlah hidangan rakyat yang simbolis. Beberapa hidangan itu antara lain, kue onde-onde, cucur (cucuru), bolu, baruasa (kue beras), ngkaowi-owi (ubi goreng), dan sanggara (pisang goreng).

Makanan itu ditempatkan dalam nampan mengelilingi piring berisi nasi, telur, dan sejumlah makanan berat lainnya. Makanan ini memberikan simbul tentang keneragaman yang saling melengkapi.

Dalam perayaan haroa, biasanya dipimpin oleh seorang modhi. Ia merupakan sesepuh sekaligus biasanya menjadi iman yang bertugas memanjatkan doa dengan disertai pembakaran dupa. Dia pula yang biasanya setelah haroa selesai, menceritakan kisah riwayat Nabi Muhammad.

Modhi mengawali haroa dengan bacaan syahadat dan istighfar, bacaan ayat suci Alquran kemudian dilanjutkan dengan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Kemudian dilanjutkan lagi dengan membaca doa tolak bala, kemudahan rezeki, dan pengampunan dosa untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Prosesi diakhiri dengan saling berjabat tangan kepada semua orang yang hadir. Sebelum makan bersama, modhi membacakan doa agar makanan itu menjadi berkah. Setelah makan bersama, kadang dilanjutkan melantunkan lagu-lagu Maludu sampai selesai.

Moment Penting Jaga Keakraban

Haroana Maludhu, Tanda Cinta Warga Buton Pada Rasulullah SAW. foto: indonesiakaya

Haroa diadakan beberapa kali dalam setahun, antara lain Haroana Rajabu, yaitu haroa yang dilakukan untuk memperingati para syuhada yang gugur di medan perang dalam memperjuangkan Islam bersama-sama Nabi Muhammad SAW. Kemudian ada Haroana Rajabu yaitu dilakukan pada Jumat pertama di bulan Rajab.

Kemudian Malona Bangua, yaitu haroa yang dilaksanakan pada hari pertama Ramadan. Pada masa silam, haroa pada hari pertama Ramadan dimeriahkan dengan dentuman meriam. Kini sudah tidak lagi diadakan.

Pada pertengahan Ramadan, masyarakat biasanya membakar lilin di pemakaman pada malam hari. Masyarakat juga melakukan qunua usai salat tarawih. Juga ada yang disebut Kadhiria, yaitu upacara yang berkaitan dengan turunnya Lailatul Qadr di bulan suci Ramadan.

Arti penting kebersamaan dan hidup harmonis sangat dirasakan warga. Dalam penelitian Mahrudin, ia sempat mewancarai sejumlah narasumber. Kebanyakan menyampaikan pernyataan senada, “Alhamdulillah, banyak dari keluarga, tetangga jauh maupun dekat, bahkan ada lho dari agama non-Islam dan etnis lain ikut haroa. Waahh, pokoknya ramai deh.”

Salah satu narasumber bernama Ning, ia mengungkapkan, “Acara Haroa kayak ginian nih, merupakan salah satu momen yang sangat penting untuk tetap mempertahankan keakraban dan silaturahmi antarkeluarga. Bisa tertawa bareng keluarga, bisa cerita-cerita, bisa saling berbagi pengalaman. Seru!”

Senada dengan Ning, narasumber lain bernama Harlina, warga Kelurahan Wakoko, Kabupaten Buton, mengatakan, “Haroa sekaligus menjadi sarana mendoakan keluarga kita yang sudah meninggal. Kita juga kadang minta rezeki, panjang umur dan yang lainnya.”

Melalui haroa, semua warga Buton, dari generasi tua sampai generasi muda, diikat dalam hidup bersama, damai, rukun, dan penuh toleransi.

Walaupun di dalamnya kadang menyiratkan dakwah Islam bagi generasi muda, namun penghargaan bagi lintas etnis dan penganut agama lain begitu tinggi. Dalam kebersamaan itulah, benteng menghadapi ajaran aliran yang tak sejalan dengan falsafah masyarakat Buton akan bisa dibendung.

Negerisatu News

0 Komentar

Komentar Facebook

Post yang Berkaitan