Ibnu Sina

ibnu sina adalah salah satu ahli kedokteran yang karyanya menjadi buku pegangan di perguruan-perguruan tinggi selama kurang lebih 30 tahun

Kemajuan peradaban Islam telah membawa dampak yang luas dalam berbagai bidang. Kemajuannya dapat dirasakan tidak hanya oleh umat Islam tetapi juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.

Salah satu kontribusi umat Islam adalah menghasilkan ilmuwan sepemikiran yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Misalnya, ada Ibnu Sina yang menulis berbagai karya di bidang kedokteran yang masih relevan hingga saat ini.

Bukunya yang berjudul Al-Kanun fi At-Tibb atau Kanon Kedokteran (Buku Kedokteran), menjadi buku referensi utama kedokteran Eropa hingga pertengahan abad XVII.

Berbakat sejak kecil

Meluncurkan BritannicaIbnu Sina, juga dikenal sebagai Avicenna di Barat, lahir pada tahun 980 M di Buhara, Iran (sekarang Uzbekistan).

Ibnu Sina telah menunjukkan kecerdasannya sejak kecil. Pada usia 10 tahun, ia membaca dan menghafal seluruh isi Al-Qur’an.

Dia belajar logika dasar dari seorang guru di masa remajanya, dan kemudian mempelajari pemikiran para filsuf Helenistik dengan cara otodidak.

BIOGRAFI IBNU SINA

Belajar kedokteran

Ibnu Sina mulai belajar kedokteran pada usia 16 tahun. Saat itu Sultan Buhara jatuh sakit dan tidak ada dokter forensik yang bisa menyembuhkannya. Raja Ibnu Sina dipanggil untuk menyembuhkan. Tanpa diduga dia berhasil dalam tugasnya.

Sebagai bentuk rasa terima kasih, Sultan Ibnu Sina diizinkan mengakses Perpustakaan Samanid, yang memperluas batas pemikiran dan pengetahuannya.

Ibnu Sina mulai aktif menuliskan pemikirannya menjadi sebuah buku pada usia 21 tahun. Dia telah menulis lebih dari 240 buku di berbagai bidang, termasuk matematika, fisika, astronomi, musik, dan puisi.

BIOGRAFI IBNU SINA

Karya-karya terkenal Ibnu Sina

Karya-karya Ibnu Sina merupakan perpaduan antara pemikiran Neoplatonik dan filsafat Aristoteles serta teologi Islam.

Terjemahan Latin dari karya-karya Ibnu Sina memungkinkan para sarjana Barat abad XIII untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang filsafat Aristoteles.

Ini terutama terlihat dalam tulisan-tulisan para pemikir Barat saat itu, seperti Albertus Magnus dan Thomas Aquinas.

Berbagi pengetahuan

Seperti karya-karya penting Ibnu Sina Kitab al-Shifa Or Books on Healing adalah ensiklopedia dari empat disiplin ilmu: logika, fisika, matematika, dan metafisika.

Ibnu Sina dalam bukunya membagi ilmu ke dalam beberapa klasifikasi.

Di bidang fisika, misalnya, ia membahas delapan prinsip dasar ilmu pengetahuan, termasuk ilmu umum, benda langit dan geografi, unsur-unsur utama, meteorologi, mineralogi, botani, zoologi, dan psikologi.

Karya penting lainnya dari Ibnu Sina Al-Kanun fi At-Tibb Atau buku teks kedokteran lima jilid.

Dalam buku pertama, Ibnu Sina membahas perawatan berdasarkan pengamatan pada empat elemen bumi, udara, api dan air.

Buku kedua membahas pengetahuan tentang efek terapeutik dari materia medica atau setiap zat yang digunakan untuk penyembuhan pada tubuh.

Pada buku ketiga, Ibnu Sina mengulas penyakit pada tubuh manusia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian di buku keempat ia melakukan pengamatan terhadap penyakit yang tidak spesifik pada organ tertentu, seperti flu.

Kemudian pada buku kelima Ibnu Sina membahas tentang pengobatan majemuk. Dalam buku kedua dan kelima ia memberikan sekitar 760 contoh obat majemuk.

Buku teks kedokteran menjadi warisan penting Ibnu Sina, karena merupakan buku referensi terkemuka di Eropa hingga pertengahan abad XVII.

Peninggalan Ibnu Sina di Zaman Modern

Ibnu Sina meninggal pada tahun 1057 M. Meski begitu, memilikinya masih di luar jangkauan rata-rata orang, termasuk menghadapi wabah Covid-19.

Dilaporkan Kompas.comDiposting pada 2 Juni 2020, oleh Prof. Dr. Endang Termudi, Ketua Peneliti Ahli, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Endang mengatakan bahwa Ibnu Sina pernah pergi menemui rekannya, seorang matematikawan bernama al-Biruni.

Saat itu, penyakit menyebar di tempat tinggal al-Biruni.

Saat bertemu dengan al-Biruni, Ibnu Sina tidak langsung berjabat tangan dengan temannya. Sebaliknya, ia membuat sejumlah saran untuk menangani epidemi.

1. Tetap tenang

Di awal merebaknya wabah epidemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2, para pakar kesehatan selalu mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

Ibnu Sina mengatakan hal yang sama saat itu.

Dia mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi ledakan untuk tetap tenang dan tidak panik.

2. Hindari kontak fisik

Wabah yang melanda rumah al-Biruni pada saat itu ditularkan dari orang ke orang oleh organisme kecil, seperti virus.

Ibnu Sina menekankan pada saat itu bahwa menyentuh satu sama lain, termasuk rambut dan pakaian, dapat menyebabkan penularan atau infeksi.

3. Jauhi orang sakit

Ibnu Sina juga menekankan perlunya menjauhi orang-orang yang sakit.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penyakit menular itu sendiri, serta untuk mencegah peningkatan jumlah orang yang terinfeksi.

Diharapkan epidemi ini akan berakhir lebih cepat daripada nanti dengan menjauhi orang sakit.

4. Penutupan pasar dan tempat ibadah

Untuk mencegah penyebaran penyakit di kediaman al-Biruni, Ibnu Sina menyarankan agar penduduk setempat menutup pasar dan tempat ibadah.

Menutup tempat ibadah bukan berarti melarang ibadah, melainkan mencegah penyebaran penyakit di kalangan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.