Klenteng Sam Poo Kong Semarang 2-21

Monumen Sam Po Kong Di Bangun Untuk Mengenang Salah Satu Pembesar Yang Paling Tekenal Dalam Sejarah Islam Di China

Orang Cina telah berlayar di seluruh dunia sejak zaman kuno. Kini, setiap klenteng, dari Sabang hingga Merauk, memiliki jejak pelayaran laut orang Tionghoa. Salah satunya adalah Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan klenteng yang terkenal di Semarang, bahkan di pulau Jawa. Di dalam kuil ada tanda-tanda bahwa orang Cina sedang berlayar melintasi lautan. Salah satunya adalah patung Laksamana Zheng He yang dianggap terbesar di Asia Tenggara.

Berdasarkan petunjuk yang tercatat di kuil, Zheng He adalah seorang Laksamana Tiongkok yang beragama Islam. Pada 1416, juru mudinya Wang Jing Hong jatuh sakit parah dan harus “memaksa” dia ke dermaga pelabuhan. Jadi mereka harus tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.

Lantas bagaimana cerita hingga Klenteng Sam Poo Kong dibangun? Apa hubungan keberadaan candi dengan citra Laksamana Cheng Ho? Berikut ini lebih lanjut:

Jejak kaki Laksamana Cheng Ho

Klenteng Sam Poo Kong Semarang 2-21

Saat menetap di sana, mereka beristirahat di sebuah gua di Pegunungan Simongan. Di sana, Wang Jing Hong juga mendapat perawatan hingga kondisinya berangsur membaik. Setelah Wang Jing Hong sembuh, Laksamana Zheng He berlayar kembali untuk melanjutkan misi perdamaian dan perdagangannya. Sementara itu, Wang Jing Hong tinggal di Bukit Simongan.

Selama tinggal di sana, Wang Jing Hong mencari nafkah dengan bergaul dengan penduduk asli dan bertani. Singkat cerita, daerah tersebut terus berkembang dan makmur. Namun, dia tidak melupakan jasa pemimpin yang disembuhkan itu. Akhirnya dia mendirikan patung Zheng He di dalam gua.

“Chen Ho, adalah seorang muslim, kendati begitu tidak melepaskan kearifan lokalnya, yaitu budaya Tionghoa. Jadi masih dibangun kelenteng untuknya di daerah itu,” kutip Bagas Liputan6.com, pengelola Klenteng Sam Pu Kong.

Cheng atau patung terbesar di Asia Tenggara

Klenteng Sam Poo Kong Semarang 2-21

Klenteng Sam Pu Kong dianggap sebagai klenteng terbesar di Semarang. Tidak hanya itu, kompleks yang terdiri dari beberapa pura dan wisatawan harus masuk terlebih dahulu melalui sebuah gerbang.

Selain Klenteng Sam Poo Kong, di kompleks ini juga terdapat Klenteng Bumi, Klenteng Juru mudi dan Klenteng Jangkar Kiai. Selain itu, terdapat patung dan bangunan pilar Laksamana Cheng Ho.

“Patung Cheng Ho yang ada di sini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Tingginya 12 meter dan seluruhnya terbuat dari perunggu. Bugas mengatakan patung itu dikirim langsung dari China dan merupakan hadiah khusus dari pemerintah China.

Tiket Masuk Kuil Sam Pu Kong

Klenteng Sam Poo Kong Semarang 2-21

Pengunjung yang ingin memasuki Klenteng Sam Pu Kong umumnya dikenakan dua jenis tiket masuk, yaitu tiket perjalanan dan tiket sholat. Jika Anda ingin bepergian, tamu akan dikenakan biaya Rs 7.000 pada hari Senin dan Jumat dan Rs 10.000 pada hari Sabtu dan Minggu.

Sedangkan pengunjung yang ingin berkunjung ke tempat tersebut tidak dipungut biaya. Setiap hari, sekitar 800-1.000 orang mengunjungi candi yang khas, lebih memilih untuk berkunjung atau berkunjung.

“Jika mereka membawa lilin, dupa liturgi sendiri, dan lain-lain, biaya masuknya gratis. Kalau tidak mau beribadah tapi membawa apa-apa, kita wajib membeli alat peribadatan di sini dulu, lalu ditukarkan dengan tiket gratis di dalam.” ,” kata Bugas.

Simbol kesabaran

Sam Poo Kong Sejarah Laksana Cheng Ho di Semarang 0-39

Meski merupakan tempat peribadatan bagi orang Tionghoa, Klenteng Sam Pu Kong kokoh dalam kehalusan kesabarannya. Menurut Bugas, semua orang, apa pun agamanya, bisa masuk ke pura.

Bahkan, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata utama Semarang dan menarik banyak pengunjung. Namun mereka harus tetap bisa menjaga dan menghormati mereka yang berdoa disana.

Bukti sejarah yang hampir punah

Sam Poo Kong Sejarah Laksana Cheng Ho di Semarang

Gua bangunan Batu masih ada sampai sekarang. Tempat itu adalah lantai dasar dagoba.

Meski terdapat tangga dan lampu remang-remang, tak banyak orang yang bisa memasuki goa tersebut. Terdapat pembatas berupa batang besi. Di luar, hanya ada patung Cheng Ho di tengah ruangan.

“Lokasi goa semakin menurun akibat pengendapan tanah di daerah tersebut. Belakangan, pada 1990-an goa itu terendam. Pada 2000-an, kami memutuskan untuk merenovasi dan meningkatkan tempat ibadah,” kata Chandra.

Gua di Klenteng Sam Po Kong bukanlah gua sungguhan, mengutip buku Jongkie Tio ‘Kota Semarang dalam Kenangan’. Pada tahun 1704, gua asli runtuh karena badai di daerah Bukit Simongan.

Gua aslinya dimonopoli oleh seorang warga, yang kerap meminta uang kepada warga lain yang ingin beribadah. Kemudian, seorang pedagang keturunan Tionghoa, Oei Tjie Sien, seorang teolog, membeli tanah itu pada tahun 1930-an dan berusaha mempertahankan status quo.

Meski membangun kelenteng, ia tidak menghapus sejarah Cheng Hoo dan rombongannya sebagai penjelajah muslim yang datang ke sana.

Sejak pertama kali dibeli dan direnovasi, luas dagoba saat ini sekitar 3,5 hektar.

“Pemugaran terakhir terjadi pada tahun 2005. Kami menambahkan relief perjalanan dunia Zheng He di dinding kuil,” kata Chandra.

Cerita Cheng Ho tentang relief dibagi menjadi 10 bagian. Setiap pembicaraan akan tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Cina.

Makam ‘Kjai Djoeroemoedi’ dan ‘Kjai Jangkar’

Sam Poo Kong Sejarah Laksana Cheng Ho di Semarang

Tidak hanya Cheng Ho, Ong Keng Hong juga mendapat kehormatan dan diberikan bangunan khusus di Klenteng Sam Pu Kong.

Berbeda dengan kamar Cheng Ho di dalam gua, bangunan Ong Keng Hong dibangun di sebelah kiri bangunan utama candi.

“Orang Jawa dan Tionghoa sangat menghormati Ong Keng Hong yang dekat dengan masyarakat. Dia meninggal pada usia 87 tahun. Orang menghormati Ong Keng Hong dengan menguburnya di dekat gua,” kata Chandra.

Di belakang meja altar, tulisan “Makam Kjai Djoeroemoedi” terukir di batu nisan makam Ong Keng Hong dan dikelilingi kelambu.

Di depan makam setinggi 1,5 meter tersebut terdapat permadani berukuran 2 x 3 meter dan terdapat tempat untuk meletakkan sesajen yang dibawa oleh para peziarah.

“Orang yang datang ke sini bukan keturunan Tionghoa yang menganut Tridarma.

Di sisi kiri gedung Ong Keng Hong adalah kamar Kyai Jangkar. Di belakang altar persegi panjang adalah jangkar kapal setinggi sekitar empat kaki.

Mengutip buku ‘Kota Semarang dalam Kenangan’ karya Jongkie Tio, Cheng Ho membawa 300 kapal besar selama perjalanannya keliling dunia. Kurang lebih, masing-masing kapal berukuran panjang 130 meter, lebar 55 meter, dan memiliki sembilan lambung.

Penduduk berasumsi bahwa jangkar suci itu berasal dari kapal Zheng He.

Di dekat Kuil Anchorage ada pemujaan khusus roh Hu Ping, yang berarti jiwa tanpa keluarga termasuk staf Zheng He.

Kai Junkar digunakan sebagai alat meditasi dalam doa atau meditasi. Secara khusus, ada pohon dengan batang mirip rantai di sekitar kuil Kai Jangkar. Orang percaya bahwa batang itu terbuat dari kapal Zheng He. Rantai itu dilemparkan ke tanah,” kata Chandra.

Kini, Klenteng Sam Pu Kong menjadi objek wisata religi Semarang yang populer. Wisatawan dapat memasuki area pagoda dengan membayar tiket Rp25.000 per orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.